Label 3

My Visitor,,

free counters

Followers

Minggu, 20 Mei 2012

Enam Stamina Iman



MENJAGA STAMINA IMAN

Syahadat sebagai wujud formulasi keberadaan iman seseorang harus dijaga dan dipelihara eksistensinya. Nabi Muhammad SAW  bersabda “al-Imanu yazidu wayanqusu, yazidu bitho’ah wayanqusu bil ma’syiyah.” (al-Hadist)
Iman terkadang naik dan terkadang turun. Sehingga keberadaan iman harus dipelihara sedemikian rupa. Ketaatan yang dilakukan seseorang kepada Allah SWT akan menjamin keberadaan iman. Bahkan iman akan semakin tumbuh dan berkualitas jika dipupuk dengan ketaatan. Wujud ketaatan seorang hamba akan terlihat dalam pelaksanaan ibadah keseharian. Ibadah wajib maupun sunnah akan menjadi barometer kualitas kehambaan seseorang. Utamanya ibadah sunnah seperti qiyamul lail. Peranan qiyamul lail sangat berpengaruh terhadap jiwa orang yang bersyahadat. Bahkan kekuatan-kekuatan ruhiyah sebagai elemen penting untuk menjaga stamina iman dapat diperoleh dari ibadah qiyamul lail. Aktifitas-aktifitas ketaatan, taqorrub (pendekatan diri kepada Allah SWT), dan ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah serta dicontohkan oleh Rasul-Nya sangat berpengaruh untuk menjaga stabilitas iman seseorang. Diantaranya: Sholat berjama’ah, Qiyamul lail, Qiroatil Qur’an.
a.      Sholat Berjama’ah
Format ibadah sholat fardhu lima kali sehari semalam dilaksanakan secara berjama’ah di masjid. Sholat berjama’ah sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya merupakan sarana pembinaan iman dan keummatan. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW: “Sholat berjama’ah dua puluh tujuh kali lipat nilainya dibanding dengan sholat sendirian.” (al-Hadist)
Walaupun dalam ketentuan hukum fiqih sholat berjama’ah hukumnya sunnah mu’akkad, tetapi melihat realita sejarah Rasulullah dengan para sahabat tidak pernah meninggalkan ibadah sholat fardhu berjama’ah. Bahkan pada suatu waktu Rasulullah Muhammad SAW pernah menyuruh Abu Bakar ra untuk menjadi  imam kemudian beliau akan berkeliling memeriksa rumah-rumah para sahabat dimana beliau sempat mengeluarkan ultimatum bagi sahabat yang tidak pergi sholat berjama’ah konon akan dibakar rumahnya. Walaupun ancaman ini tidak mungkin dilaksanakan oleh beliau, tetapi dapat kita simpulkan betapa menjadi keharusan untuk selalu hadir berjama’ah di masjid. Bahkan sahabat Ibnu Ummi Maktum yang buta kedua matanya, pada saat beliau memohon keringanan untuk  tidak sholat berjama’ah ternyata Rasulullah kemudian bertanya kepada beliau, “Sampaikah suara adzan kepadamu, wahai Ibnu Ummi Maktum?”, jika adzan itu terdengar olehnya maka wajib baginya datang berjama’ah walaupun dengan merangkak.
Sholat berjama’ah hendaknya ditegakkan di tengah ummat sebagai sarana tarbiyah iman dan tarbiyah ummat. Sesungguhnya sholat berjama’ah dapat dimanfaatkan sebagai kontrol iman seseorang. Eksisnya iman para anggota jama’ah akan nampak pada disiplin dan utuhnya ibadah berjama’ah. Idealnya jumlah shaff sholat Jum’at sama dengan jumlah shaff sholat shubuh dan sama pula dengan jumlah shaf sholat fardu lainnya.
b.      Qiyamul Lail
Qiyamul Lail adalah bahasa Arab, yang berasal dari kata ‘qiyamun’ yang artinya bangun, dan ‘al-Lail’ artinya malam. Qiyamul Lail adalah bangun pada malam hari antara separuh malam hingga menjelang shubuh untuk melaksanakan sholat sunnah (tahajjud) dengan niat ingin mendapatkan keridhoan Allah SWT. Ibadah qiyamul lail yang dilaksanakan dengan tekun dan ikhlas sangat berpengaruh terhadap jiwa orang yang melaksanakannya. Syahadat seseorang akan semakin kokoh dan segar jika didukung dengan ibadah qiyamul lail.  
Keutamaan qiyamul lail bagi orang yang tekun menjalankannya, ia akan mendapatkan beberapa keutamaan di antaranya qurrota ‘ayyun (penyejuk hati), qoulan tsakila (perkataan yang berbobot), maqomam mahmudah (kedudukan yang terpuji), shultonan nashiro, dan masih banyak keutamaan lainnya. Seperti diungkap dalam al-Qur’an:
“Lambung mereka jauh dari pembaringan, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menafkahkan sebagia dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

“Tiada seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, (yaitu bermacam-macam nikmat) yang menyejukkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. as-Sajadah: 16-17)

Dengan Qiyamul Lail ia akan merasakan kenikmatan luar biasa. Bahkan mereka akan menemukan ketentraman , ketenangan, serta rasa aman karena merasa dekat dengan Pencipta, Pemelihara, dan penentu alam semesta ini.
c.       Tartil Qur’an
Dengan membaca al-Qur’an seorang mukmin tidak saja mendapatkan ketenangan dan kekuatan ruhaniyah, namun juga mendapatkan petunjuk, mana jalan        yang harus dilalui serta jalan yang harus dihindari. Tanpa rambu-rambu dan petunjuk jalan niscaya seseorang dapat tersesat dari jalan kebenaran lebih-lebih dalam menghadapi kehidupan yang samar-samar,  tidak jelas antara yang Haq dengan yang bathil. Dalam kondisi seperti ini al-Qur’an sangat dibutuhkan untuk menjadi cahaya penerang dan petunjuk yang membedakan antara yang hak dan yang bathil. Disamping itu al-Qur’an dapat sebagai pengobat hati. Dalam kehidupan seorang mukmin, akan berhadapan dengan hal-hal yang dapat merusak iman dan mengotori hati.Hal itu dapat terjadi karena perbuatan maksiyat. Semakin sering maksiyat dilakukan maka semakin rusak iman dan semakin kotor hatinya. Jika terus menerus maksiyat tidak dihentikan maka hatinya akan mati atau sakit. Dengan membaca al-Qur’an, memahami maknanya serta meresapi kandungannya akan dapat menjadi pengobat hati yang sakit.
“Dan Kami turunkan al-Qur’an sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan al-Qur’an itu tidak memberi nilai tambah bagi orang-orang yang dzalim kecuali kerugian.” (Qs. al-Isra’: 82)
“Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yunus:57)

d.      Menghidupkan Ukhuwah Islamiyah

Syahadat yang tumbuh dalam diri seseorang cenderung untuk mencari dan menjalin persahabatan dengan sesamanya orang beriman. Keinginan untuk berkumpul dan bertemu dengan ikhwan-ikhwan menjadi tuntutan dirinya setiap saat. Mereka akan merasakan suasana indah dalam hidup bersama dalam sebuah jama’ah. Dalam sejarah betapa indah persaudaraan yang dibangun antara muhajirin dan anshar di Madinah. Mereka bersatu padu, bahu membahu, seperti satu tubuh bahkan melebihi dari saudara kandungnya sendiri. Rasulullah Muhammad SAW memasangkan masing-masing muhajirin dan anshar untuk dipersaudarakan. Keindahan hidup kebersamaan itu nampak terlihat pada waktu sahabat Abdurrahman bin ‘Auf diberikan tawaran  oleh saudaranya anshar, “Kami punya tanah, kebun, dan harta benda, semuanya akan kami bagi dua dan sebagian untuk Tuan dan sebagian untuk kami. Kami mempunyai dua istri, kalian boleh pilih salah satu di antaranya kemudian kami ceraikan dia, dan jika habis masa iddahnya nikahilah dia.” Luar biasa peragaan hidup orang-orang yang bersyahadat. Ada beberapa pilar yang menumbuhkan hidup kebersamaan (berjama’ah):
1.      Ta’aruf
Masing-masing di antara mereka tumbuh keinginan yang kuat untuk saling mengenal diri mereka masing-masing. Ta’aruf akan menghasilkan saling pengertian sehingga menumbuhkan keakraban di antara sesama orang yang beriman
2.      Tafahum
Tidak cukup hanya dengan saling kenal mereka akan lebih jauh saling memahami perasaan, pikiran, dan jiwa saudaranya. Sehingga memperkecil kemungkinan misunderstanding dan misperception tetapi justru yang berkembang adalah toleransi dan tenggang rasa antara mereka. Perbedaan-perbedaan yang muncul diantara mereka akan segera dengan mudah dinetralisir.
3.      Ta’awun
Pertumbuhan mental berikutnya, kebersamaan hidup yang terbangun akan melahirkan sikap saling tolong menolong sesama kawan. Sikap ingin membantu teman menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan.
4.      Takaful
Pada tingkat yang ideal mereka sanggup berbagi dengan sesama saudaranya. Mereka merasa bahagia apabila mampu membahagiakan saudaranya.

e.       Silaturrahmi
Kebiasaan bersilatuurrahmi mempunyai pengaruh tersendiri terhadap jiwa orang yang beriman. Iman akan semakin segar apabila ia dipertemukan dengan sesamanya saudara seiman. Bahkan silaturrahmi akan mengokohkan keberadaan iman.

f.       Infaq fisabilillah
Iman yang tumbuh dalam diri seseorang akan melahirkan kesiapan untuk berkorban. Memberikan sesuatu sebagian dari apa yang dimilikinya merupakan desakan yang setiap saat dapat dirasakan sebagai tuntutan iman.
“Perumpaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tipa butir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Baqarah:261)





TINDAK LANJUT SYAHADAT

Syahadat yang ideal tentu sangat berbeda dengan apa yang kita kenal dan barang kali yang kita miliki selama ini. Syahadat selalu hadir membawa perubahan, membawa nilai, yang memberi pamor dan pesona pada siri seseorang. Syahadat baru dapat dikatakan eksis manakala mampu memberi bias dan pengaruh, membawa perubahan yang bisa dirasakan oleh orang lain.yang ada di sekitarnnya. Mereka yang telah bersyahadat segera tampil dengan tekad yang tajam serta semangat kerja yang membara untuk segera berbuat melakukan perubahan-perubahan yang terkait dengan diri dan kehidupan di sekelilingnya. Ia punya keinginan kuat untuk melihat kehidupan ini terwarnai oleh keyakinannya. Bahkan mereka akan tampil begitu meluap-luap dan berkibar-kibar mengangkat beban dan tugas-tugas perjuangan.
Dengan syahadat itu saja berarti dalam diri sudah terjadi sebuah revolusi secara total. Dalam dirinya terjadi perubahan drastis yang melahirkan irama dan ritme yang begitu rapi dan teratur mengarah kepada segala aktivitas yang mengundang keridhoan Allah SWT. Orang yang bersyahadat sudah semestinya tahu betul konsekuensi dari syahadat yang diikrarkannya. Beberapa konsekuensi syahadat sebagi tindak lanjut pertumbuhan iman dalam dirinya antara lain:
1.      Mengilmui Islam
Karena iman yang tumbuh di dalam dirinya menuntut sejumlah konsekuensi yang harus dilakukan maka gairah yang pertama-tama muncul yaitu keinginan yang kuat untuk mempelajari dan memahami Islam secara keseluruhan. Jika dirinya dibiarkan tidak mengerti dan tidak memahami Islam sebagai jalan hidupnya maka konsekuensi syahadat tidak dapat terpenuhi dengan baik. Mengilmui Islam merupakan langkah awal untuk membangun kesempurnaan dirinya dalam bersyahadat. Pekerjaan menuntut ilmu menjadi satu kebutuhan untuk menyempurnakan ketaatan dan amal sholehnya.
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” (al-Hadist)
“Al-‘ilmu qoblal ‘amal.” (al-Hadist)
“Menuntut ilmu kemudian beramal.”
Kualitas syahadat seseorang dan konsekuensinya sebagai tindak lanjut keberadaan imannya sangat ditentukan oleh kadar pemahaman tentang makna, fungsi, tuntutan, serta hakikat syahadat itu sendiri
2.      Meyakini Islam
Yakin artinya siapa yang megucapkan dua kalimat syahadat harus meyakini dalam hatinya terhadap kebenaran yang diucapkannya. Yaitu kebenaran adanya hak-hak ilahiyah Allah SWT dan kebenaran kenabian Muhammad SAW. Sebaliknya ia meyakini tidak benarnya ilahiyah selain Allah SWT dalam bentuk ibadah apa pun. Dan meyakini ketidakbenaran siapa saja yang mengakui kenabian setelah Nabi Muhammad SAW. Sedikitpn keyakinan ini tidak boleh tercemari oleh keragu-raguan.



“Bahwasannya orang-orang mukkmin itu adalah orang-orang yang berian  kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.”  (Qs. al-Hujurat: 15)
 Setelah keyakinan menghujam di dalam dada sikap yang diperlukan adalah sami’na wa ata’na. Seseorang yang telah bersyahadat sikapnya jelas penuh keyakinan. Setiap perintah dan larangan yang datangnya dari Allah SWT dan Rasul-Nya akan dilaksanakan tanpa menunggu waktu. Sekalipun perintah itu nampak bertentangan dengan jalan pikirannya mereka tetap sabar melaksanakannya. Mereka yakin di balik semua itu ada  hikmahnya. Bagi mereka tiada pilihan bila perintah Allah sudah datang. Bagi mereka tiada alternatif lain kecuali mengikuti apa saja maunya Allah dan Rasul-Nya.



“Tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang pria atau wanita yang beriman kecuali menerima apa yang telah diputuskan Allah da Rasul-Nya tentang perkara mereka. Siapa yang durhak kepada Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya dia dalam kesesatan yang nyata” (Qs. al-Ahzab:36)
3.      Mengamalkan Islam
Islam bukanlah agama kebatinan yang cukup hanya diyakini saja. Islam juga bukan agama lisan yang cukup hanya diucapkan saja. Islam adalah agama amal yang dilandasi oleh suatu keyakinan yang utuh. Syahadat adalah sumber kekuatan yang mampu mendorong dirinya untuk melahirkan amal-amal nyata. Bila iman betul-betul sudah merasuk ke dalam hati, akan terasa sulit bagi dirinya untuk diam meski hanya beberapa saat. Iman akan melahirkan kepedulian yang sangat besar. Ia akan sibuk mengurusi orang-orang yang ada di sekitarnya. Baginya apa saja yang ada di sekitarnya akan selalu menarik perhatiannya. Yang baik akan didukung, dilestarikan, dan ditingkatkan. Yang salah akan ia coba untuk memperbaikinya. Bagaimanapun buruknya situasi dan kondisi ia akan terus bekerja dan berkarya. Tidak ada alasan untuk berhenti. Diintipnya setiap peluang betapapun kecilnya. Iman sebagai satu kekuatan akan terus bergerak. Tidak ada alasan untuk mengeluh sebab mengeluh bukan bahasa iman. Keluhan adalah pantangan bagi orang yang sudah menyatakan beriman.
Sifat orang beriman adalah optimis. Dalam kondisi yang sejelek apapun ia tetap punya harapan. Sebab wujud iman adalah keyakinan akan keberadaan Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah.
4.      Mendakwahkan Islam
Dengan ikrar syahadat seseorang telah bertransaksi jual beli dirinya kepada Allah untuk menempuh kehidupan secara utuh dan menyeluruh. Baik kehidupan pribadi, berkeluarga, maupun bermasyarakat serta bernegara. Semuanya ditempuh untuk tidak meng-ilahkan selain Allah SWT. Format kehidupan berislam tidak mungkin secara individual. Tetapi ia dituntut untuk membangun kehidupan yang lebih luas. Berislam sendirian secara pribadi tidak memiliki dasar pijakan serta contoh dari Rasulullah SAW. Di samping itu juga tidak cukup memiliki nilai keagungan amal menuju kesempurnaan  hidup islami, kehidupan yang mulia bahagia dunia dan akhirat. Dengan demikian jalan dakwah menjadi suatu tuntutan dan tindak lanjut yang tidak bisa dipisahkan dari hakikat syahadat seseorang. Mendakwahkan Islam adalah jalan ikhtiari yang terbaik menuju cita-cita mulia, jalan para Nabi, dan para pembawa risalah kenabian.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh, dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Fushilat:33)
Panggilan dakwah adalah wujud tanggung jawab orang-orang yang bersyahadat.

5.      Memperjuangkan Islam
Semangat untuk memperjuangkan apa yang selama ini diyakini kebenarannya adalah manifestasi iman. Tidak ada iman tanpa adanya keinginan dan kesiapan untuk turut berjuang. Omong kosong bicara tentang iman tanpa diiringi dengan kesediaan dirinya untuk turut serta berjuang fii sabilillah. Adalah kebohongan besar dan kemunafikan yang nyata bila ada orang yang mengaku beriman kemudian diam tidak mengambil sikap apa-apa, tidak beraksi, ataupun mereaksi terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungannya. Sepanjang sejarah kita saksikan setiap ada kedzaliman selalu terjadi perlawanan dari orang-orang yang beriman. Mereka yang beriman tidak akan mungkin mentolerir kebatilan. Baginya tidak ada pilihan lain kecuali memberantasnya. Dengan iman yang ada mereka tidak akan pernah berhenti berpikir dan berbuat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Adapun kebenaran dan keadilan yang sebenarnya adalah kalimat Allah SWT, ajaran Islam. Itulah ajaran yang mereka yakini dan itu pula  yang mereka perjuangkan. Tiada program lain dalam hidup orang yang bersyahadat kecuali berjuang dan berjuang.
“Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika tdak mampu hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi yang deikian itu adalah selemah-lemah iman.” (al-Hadist)
Jelaslah sudah kalau ciri khas yang menjadi identitas orang yang bersyahadat adalah keaktifan bergerak, membuat aksi dan reaksi untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Qs. al-Hujurat:15)

6.      Hidup dan Mati bersama Islam
Setelah mengikrarkan dua kalimat syahadat seseorag tiada lagi punya hak terhadap hidupnya selain hanya untuk Allah SWT semata-mata. Dia telah menjual dirinya hanya untuk kepentingan Islam. Boleh saja dia punya kegiatan macam-macam asalkan semuanya itu demi Islam.
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.” (Qs. al-An’am:162)
Maka jika tindakan-tindakan orang tersebut bukan karena dan untuk Islam maka di hadapan Allah itu tidak ada artinya. Bahkan bisa jadi mengurangi nilai syahadatnya. Mengagungkan Allah dan menjunjung Rasulullah SAW, dan berjuang menegakkan ajaran-Nya akan banyak hambatan dan halangan yang menghadang. Dalam perjalanannya orang bersyahadat akan dihadapkan kepada ujian demi ujian. Manakala ia berhasil melewati ujian-ujian iman maka semakin meningkat bobot dan kualitas syahadatnya. Allah tidak akan membiarkan pengorbanan hamba-Nya itu dengan sia-sia. Pengorbanan sekecil apa pun, Allah pasti mencatatnya. Dan imbalan yang sudah disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman adalah surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang yang beriman harta dan jiwanya dengan surga.” (Qs. at-Taubah:111)












0 komentar

Posting Komentar

Part Of Me

Foto saya
mungkin diri ini tidaklah sesempurna apa yang kalian pikirkan dan bayangkan apalagi yang telah kalian definisikan tentang bagaimana kekhilafan diri ini tapi bagaimanapun ane selalu ingin menjadi yang terbaik at leas bisa membuat orang sekitar senang dengan keberadaan itu udah cukup ! and no matter what happend i will always remember who you are ! buddy !

>> <<

Diberdayakan oleh Blogger.