Label 3

My Visitor,,

free counters

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 10 November 2012

Studi Kasus Pendekatan Klinik-Genetik



Abdul Wahed Andrea Muzackye
&
Achmad Fadzeri


Kata Pengantar

Segala puji bagi allah yang telah mencurahkan tanpa jemu, nikmat-nikmatnya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dapat terus menambah pundi-pundi amal kita  segar menjadi bekal akhirat kita.
Sholawat dan salam marilah senantiasa kita haturkan, kita kirmkan pada nabi agung nan mulia, nabi besar Muhammad SAW, yang telah mendedikasikan ilmu pengetahuan yang kuas bagi ummat islam seluruhnya.
Penelitian kualitatif merupakan suatu kewajiban yang dibebankan kepada mahasiswa dalam perkuliahan in. Dalam makalah ini kami mencoba menjelaskan sedikit tetang satu hal yang berkaitan dengan klinik klinik Genetik. Yang menjadi tugas kami sebagai mahasiwa untuk menyusun makalah sebagai sayart memenuhi nilai tugas dan SKS mata kuliah Metode Penelitian.
Maka kami di sini dalam menysun makalah ini bebnar-benar di niatkan untuk mencari ridho allah dan kemudian untuk memenuhi nilai tugas. Maka jika nanti di dalam pembhasan ada terdapat kekeliruan kami memohon maaf yang sangat dalam kepada semua pihak yang terkait.
Tidak lupa juga kami mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mau berkerja sama dalam suksesnya penyusunan makalah ini. Dan kami menyampaikan harapan, semoga makalah ini bisa diterima dan menjadi rujukan dalam penyusnan makalah-makalah selanjutnya.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih untuk yang kesekian kali, jazaakallahu.






Daftar Isi
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang Masalah
b.      Rumusan Masalah
PEMBAHASAN
1.      Studi Kasus Pendekatan Klinik
2.      Studi Kasus Pendekatan Genetik
a.       Karakteristik Penelitian Cross-Sectional
b.      Karakteristik Penelitian Longitudinal
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA











A.    PENDAHULUAN
a.       Latar belakang masalah
Meneliti suatu masalah sekarang menghadapai beragam masalah. Mulai dari caranya samapai pengaplikasikanya, dan makin variatif di banding masa lalu yang hanya dengan model langsung hingga atao interaksi. Banyak kemudian ragam istilah yang berkenaan dengan model Penelitian, antara lain : penelitian klinik klinik genetik, dan sebagainya. Akan tetapi hingga saat ini perkembangan kegiatan meneliti tidak didampingi dengan aspek yang lebih variatif, sehingga masyarakat cendrung tidak perduli dengan nilai-nilai yang seharusnya diperhatikan pada unsur-unsur meneliti. Problematika etis ini penting dibahas, mengingat saat ini terjadi pertarungan dan benturan peradaban
Selain itu pada penelitiann klinik klinik genetik ini  juga akan  membahas hukum Genetik yang kemudian disana akan jelas apa hukumnya meneliti dan juga siapa saja yang harus menjadi pelaku yang benar.
b.      Rumusan masalah
Banyak orang yang telah mencoba menjelaskan berbagai macam metode meneliti dengan konsep klinik klinik genetik yang kemudian meraka telah menulis opini baik itu berupa artikel, maupun bentuk opini yang lain. Bahkan buku telah banyak terbit yang khusus membahas tentang management penelitian. Karena itu kami merasa penting membahas klinik klinik penelitian. Dengan sistimatika pembahasan sebagai berikut :
a.       Studi kasus pendekatan Klinik
b.      Studi kasus Pendekatan Genetik








B.     PEMBAHASAN
Pendekatan Penelitian adalah seperangkat asumsi yang saling berkorelasi satu dengan yang lain mengenai fenomena alam semesta. Dan pada dasarnya ada 3 (tiga) pendekatan penelitian yang selama ini  digunakan dalam penelitian ilmiah yaitu Penelitian Kualitaitf, Penelitian Kuantitatif, dan Penelitian Trianggulasi yang merupakan penggabungan dari Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif.
Penelitian kuantitatif dipandang sebagai sesuatu yang bersifat konfirmasi dan deduktif, sedangkan penelitian kualitatif bersifat eksploratoris dan induktif. Bersifat konfirmasi disebabkan karena metode penelitian kuantitatif ini bersifat menguji hipotesis dari suatu teori yang telah ada. Penelitian bersifat mengkonfirmasi antara teori dengan kenyataan yang ada dengan mendasarkan pada data ilmiah dalam bentuk angka atau numerik, sehingga Penelitian Kuantitatif diidentikkan dengan Penelitian numerik. Penarikan kesimpulan pada penelitian Kuantitatif bersifat deduktif yaitu menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat umum kesesuatu yang bersifat khusus. Hal ini berangkat dari teori-teori yang membangunnya.
Sedangkan penelitian kualitatifbersifat eksploratoris karena berusaha mengeksplorasi terhadap suatu permasalahan walaupun dengan sedikit informan. Cara yang paling praktis dilakukan adalah dengan melakukan in-depth interview maupun dengan proses Focus Group Discussion (FGD). Logika dalam penarikan kesimpulan penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan logikan induktif yaitu berangkat dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menuju ke hal-hal yang bersifat umum berdasarkan informasi-informasi yang membangunnya kemudian dikelaskan ke dalam suatu konsep.
Salah satu penelitian yang bisa dimasukkan dalam penelitian kualaitatif adalah penelitian studi kasus. Studi kasus adalah salah satu metode penelitian dalam ilmu sosial.Dalam riset yang menggunakan metode ini, dilakukan pemeriksaan longitudinal yang mendalam terhadap suatu keadaan atau kejadian yang disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara-cara yang sistematis dalam melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi,dan pelaporan hasilnya. Sebagai hasilnya, akan diperoleh pemahaman yang mendalam tentang mengapa sesuatu terjadi dan dapat menjadi dasar bagi riset selanjutnya. Studi kasus dapat digunakan untuk menghasilkan dan menguji hipotesis.[1]
Pendapat lain menyatakan bahwa studi kasus adalah suatu strategi riset, penelaahan empiris yang menyelidiki suatu gejala dalam latar kehidupan nyata. Strategi ini dapat menyertakan bukti kuantitatif yang bersandar pada berbagai sumber dan perkembangan sebelumnya dari proposisi teoretis. Studi kasus dapat menggunakan bukti baik yang bersifat kuantitatif maupunkualitatif. Penelitian dengan subjek tunggal memberikan kerangka kerja statistik untuk membuat inferensi dari data studi kasus kuantitatifmetodologi penelitian yang diuraikan terleih dahulu berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan cara mencar rata-rata dari frekuensi kejadian atau rerata dari keragaman individual. Banyaknya kejadian atau banyaknya individu serta representasinya menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan kebermaknaan (signifikansi) penarikan kesimpulan.[2] Ada beberapa macam studi kasus yang menggunakan bukti yang bersifat kualitatif, diantaranya: studi kasus dengan pendekatan klinik dan pendekatan genetik.
1.      Studi Kasus Pendekatan Klinik
Dalam Pendekatan Klinik terdapat 5 komponen yang penting untuk ditelusuri, yaitu: 1) identifikasi status situasi bagi perlakuan kuratif, 2) pengumpulan data, pengujian kemampuan indera, kesehatan, pendidikan, mental, dan mengadakan penelaahan biografinya, 3) membuat diagnosis dan identifikasi faktor penyebabnya, 4) penyesuaian, perlakuan, dan terapi, 5) program tindak lanjut.
Dalam perkembangannya unit analisisnya tidak terbatas pada perorangan, melainkan dapat saja diperluas sehingga unit analisisnya satuan sosial tertentu. Studi kasus dengan unit analisis perorangan diperlukan penyuluh, pembimbing, konsultan psikologik, psikiater, dan neurologi. Sedangkan, studi kasus dengan unit analisissatuan sosial tertentu diperlukan oleh para pekerja sosial. Dengan sendirinyan komponen di atas perlu dimodifikasi menjadi studi derajat kesehatan, pendapatan, tingkat kriminalitas, dan hal lain yang diperkirakan relevan.
Dua wawasan baru yang perlu dimasukkan dalam mengadakan studi kasus termasuk tindak lanjutnya. Pertama, para pakar tidak lagi memandang bahwa setiap orang itu berperilaku tidak normal, tapi memandang bahwa orang pada umumnya berperilaku normal. Ketidaknormalan itu hanyalah penyimpangan. Kedua, orientasi klien mendatangi pekerja sosial telah berkembang tentang perlunya pekerja sosial mendatangi warga masyarakat yang besar kemungkinan warga tersebut tidak menyadari kesulitannya sendiri. Wawasan itu memberi konsekuensi upaya identifikasi dan upaya membuat diagnosis dan terapinya.
Identifikasi status situasi bagi keperluan kuratif mencakup upaya-upaya menajamkan objeknya, bukan pada subjeknya. Menajamkan kembali wawasan teoritik dan mampu memilih teknik studi yang tepat, yang mau dikerjakan itu adalah tindakan korektif atau tindakan pengembangan dan mengidentifikasi tingkat penyimpangan atau hambatan.
Pengumpulan data sebagai tahap kedua bagi studi kasus ini perlu diarahkan mencari faktor penyebab penyimpangan untuk landasan membuatdiagnosis serta membuat terapinya. Biografi tentang sekolahnya dan tentang kehidupan keluarganya merupakan sumber utama bagi pengujian penyimpangannya. Data tersebut perlu dilengkapi dengan pengujian kesehatannya, kemampuannya, dan mentalnya.
Membuat diagnosis merupakan langkah ketiga bagi studi kasus Pendekatan Klinik. Sejumlah subjek memerlukan diagnosis khusus, seperti: a) kelompok tuna mental dan tuna daksa, b) kelompok tuna sosial, moral, dan emosional, c) mereka yang hasil belajarnya di bawah rata-rata, dan d) mereka yang bakat latinnya tidak dapat tersalur. Teknik-teknik diagnosisnya mencakup: tes kemampuan dasar, hasil belajar, dan kepribadian; observasi kebiasaan, sikap, dan reaksinya; menganalisis pekerjaan tertulis klien; menganalisis berbagai jawaban dan reaksi oral; wawancara, dan yang lainnya.
Langkah keempat dalam studi kasus ini adalah mengadakan berbagai penyesuaian, memberikan perlakuan dan membuat terapi. Pada tahap ini diagnosis yang telah dibuat diuji lagi sebelum dikenai perlakuan tertentu; menumbuhkan kesadaran orang tua maupun anak untuk siap mengadakan berbagai penyesuaian itu penting, misalnya proses terapi dari Carl Rogera yang “non-directive” atau “client-centered” yang digunakan. Sampai dangan langkah keempat pada berbagai forum kami sebut sebagai proses rehabilitasi, proses membuat subjek menjadi labil kembali, menjadi mampu untuk tumbuh dan bertindak normal.
Langkah kelima adalah tindak lanjut yang biasa kami sebut sebagai proses revalidasi; upaya menjadikan subjek menjadi valid, menjadi dapat diterima, diakui kemampuan partisipasinya, dan diberi peluang penuh untuk berprestasi.
Jadi, melalui Pendekatan Klinik; penelitian ditekankan pada berbagai tahap-tahap komponen yang dapat menentukan hasil penelitian kualitatif dengan baik. Tahap-tahap tersebut mengarahkan unit analisisnya dalam sistem pengarantinaan yang bertujuan menggapai validasi tertentu.

2.      Studi Kasus Pendekatan Genetik
Metodelogi penelitian yang dicakup dalam studi kasus pendekatan genetik sebenarnya berupaya dalam mencari kebenaran ilmiah dengan cara membelajari secara mendalam. Dan dalam waktu yang cukup lama.[3] Bukan banyaknya individu dan bukan rerata yang menjadi dasar pertimbangan penarikan kesimpulan, melainkan didasarkan ketajaman peneliti melihat :
1. Kecendrungan
2. Pola
3. Arah
4. Banyak faktor yang memacu dan menghambat perubahan
Perubahan bagi penekatan genetik bertolak pada dari asumsi bahwa sesuatu itu berkembang dari yang elementer menjadi yang lebih sempurna. Jika terdapat banyak hambatan, arah menjadi sempurna tidak akan pernah tercapai, yang akan muncul adalah penyimpangan atau deviasi perkembangan.[4]
Studi kasus dilihat dari dimensi tertentu dapat pula disebut studi longotudinal yang merupakan perlawanan dari studi cross section. Yang dimaksud dengan studi kasus longitudinal merupakan suatu pengobserfasian terhadap obyek dalam jangka waktu yang cukup lama dan terus-menerus, sedengkan studi cross sectional berupaya mempersingkat waktu observasinya dengan cara mengoservasi pada beberapa tahap atau tingkat perkembangan tertentu, dengan harapan dari sejumlah tahap atau tingkat perkembangan tertentu tersebut akan dapat dibuat kesimpulan yang sama dengan metode longitudilan.
a. Karakteristik Penelitian Cross-Sectional
Penelitian cross-sectional lebih banyak dilakukandibanding penelitian longitudinal, karena lebih sederhana dan lebih murah. Dalam penelitian crosssectional, peneliti hanya mengobservasi fenomena pada satu titik waktu tertentu. Pada penelitian yangbersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatumodel atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaandi antara kelompok sampling pada satu titik waktu tertentu. Namun penelitiancross-sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamikaperubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang mempengaruhinya.
Kelemahan rancangan cross-sectional lainnya adalah ketidakmampuannya untuk menjelaskan proses yang terjadi dalam objek/variabel yang diteliti serta hubungan korelasionalnya. Rancangan crosssectional mampu menjelaskan hubungan antara dua variabel, namun tidak mampu menunjukkan arah hubungan kausal di antara kedua variabel tersebut (Shklovski, et.al., 2004).
b. Karakteristik Penelitian Longitudinal
Penelitian longitudinal memiliki cakupan pengertian serta karakteristik sebagai berikut (Ruspini,2000; Taylor et.al., 2000):
a. Data dikumpulkan untuk setiap variabel pada dua atau lebih periode waktu tertentu.
b. Subjek atau kasus yang dianalisis sama, atau setidaknya dapat diperbandingkan, antara satu periode dengan periode berikutnya.
c. Analisis melibatkan perbandingan data yang sama dalam satu periode dan antar berbagai metode yang berbeda.
Penelitian longitudinal biasanya lebih kompleks dan membutuhkan biaya lebih besar daripada penelitiancross-sectional, namun lebih andal dalam mencari jawaban tentang dinamika perubahan. Selain itu, penelitian longitudinal berpotensi menyediakan informasi yang lebih lengkap, bergantung pada operasionalisasi teori dan metodologi penelitiannya. Termasuk dalam rancangan penelitian longitudinal adalah cross-sectional berulang (repeated cross-sectional) atau time-series, rancangan prospektif, dan rancangan retrospektif (Ruspini, 2000 dan Neuman, 2002). Tiga cara penelitian longitudinal ini dapat dipahami berikut ini:
1. Cross-Sectional berulang (repeated crosssectional) atau Time-Series. Dalam penelitian sosial, observasicross-sectional sering digunakan untuk menilai faktor pengaruh (determinan) perilaku, namun tidak memadaiuntuk analisis diakronis tentang perubahan sosial. Untuk mengatasi kendala tersebut maka dapat dilakukan pendataan cross-sectional pada beberapa periode waktu, dengan sampel berbeda di setiap pengambilan datanya, namun jumlah populasinya dijaga tetap. Jika data cross-sectional diulang dengan konsistensi yang tinggi pada setiap pertanyaannya, maka dimungkinkan bagi peneliti untuk melihat suatu trend perubahan. Peneliti dapat mengamati stabilitas atau perubahan dari bentuk unit tertentu, atau melacak situasi dan kondisinya dari masa ke masa.
2. Rancangan prospektif Data temporal yang paling sering dijumpai dalam hasil penelitian sosial adalah data panel, yang diambil dari sejumlah individu yang sama, yangiwawancarai secara berulangkali dari waktu ke waktu selama periode tertentu. Rancangan prospektifini lebih unggul daripada tipe longitudinal lain, namun lebih sulit dilakukan. Dalam studi panel peneliti mengamati individu-kelompok-atau organisasi yang sama persis, selama rentang periode waktu tertentu. Rancangan ini menuntut peneliti untuk mengikuti perjalanan orang yang sama (sama persis responden dan kriterianya) dalam beberapa waktu. Terkadang orang yang diamati telah meninggal atau tidak dapat dijumpai lagi karena sudah berpindah lokasi. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat, bahkan penelitian panel secara singkat sekalipun dapat memberikan gambaran jelas tentang dampak suatu peristiwa tertentu terhadap individu-kelompok-organisasi yang sama. Rancangan panel memiliki variasi sebagai berikut (Buck et.al. 1994: 21-22):
a. Panel Representatif
Sampel ditetapkan secara random untuk individu yang sama, pada interval yang tetap (misal tiap 2-3 bulan atau tiap tahun). Pengamatan dilakukan pada kebiasaan waktu tertentu. Tujuan utama panel representatif adalah untuk mendeteksi dan memastikan perubahan yang dialami individual.
b. Panel Cohort (atau biasa disebut rancanga cohort)
Cohort didefinisikan sebagai sekelompok orang dalam populasi dan geografis tertentu, yang didelineasi mengalami peristiwa hidup yang sama dalam periode waktu tertentu. Tujuan panel cohortadalah untuk meneliti perubahan dalam jangka panjang dan proses perkembangan individual. Sampel biasanya diinterview ulang setiap lima tahunan. Studi cohort dapat menjadi serial studi panel bila sampel diambil dengan kriteria yang tetapsama (misal usia yang sama bukan kelompok orang atau unit yang sama) dan pengamatan ditujukan pada sekumpulan orang yang memiliki kategori pengalaman hidup yang sama dalam periode waktu tertentu.
Fokus analisis cohort adalah pada cohortatau kategori tertentu, bukan pada individuspesifiknya. Biasanya cohort yang digunakan adalah semua orang yang lahir pada tahun yang sama (disebut birth cohort), semua orang yang dipekerjakan pada waktu yang sama, semua orang yang pensiun pada rentang satu atau dua tahun, atau orang yang lulus pada tahun yang sama. Tidak seperti studi panel murni, sampel penelitian ini tidak perlu orang yang persis sama tetapi kelompok yang mengalami peristiwa hidup sehari-hari yang sama.
c. Panel Terhubung (linked panel)
Dalam rancangan ini data yang semula terkumpul (misal data sensus) bukan untuk maksud studi panel, dicoba dihubunghubungkan dengan menggunakan pengidentifikasi personal yang khusus.
3) Rancangan retrospektif (rancangan observasi berorientasi pada peristiwa) Dalam rancangan retrospektif, data tentang periode waktu di masa lampau dihimpun pada masa kini dengan menggunakan cara studi sejarah hidup (life- histories event) danmenandainya dengan peristiwa-peristiwa yang dianggap signifikan. Rancangan retrospektif seringkali disebut rancangan quasi-longitudinal, karena memiliki banyak kelemahan, pendekatannya kualitatif dan sangat mengandalkan pada rekonstruksi peristiwa masa lampau.[5]
Upaya mempersigkat waktu penelitian, upaya yang lain juga muncul, yaitu : simultaneous cross sectional, yang merupakan tahap perkembangan tidak diambil pada subjek yang sama, melainkan dilihat dari subjek yang berbeda. Berbeda dengan cross sectional yang merupakan perkambangan anak dilihat dari subjek yang sama, ketika ia balita, ketia ia remaja, ketika ia dia dewasa, dan ketika ia lanjut usia, melihat dari situ meka penelitian ini harus menunggu waktu yang lama, yakni sepanjang subjek itu hidup.
Berbeda dengan stimululus cross sectional , pada pendekatan ini untuk meneliti perkembangan, maka diambil dari subjek balita, yang remaja, yang dewasa, yang usia lanjut, sehingga pada pendekatan stimulus cross sectional ini waktu yang digunakan dapat dipersingkat.
Ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa longitudinal dan cross sectional ini desebut dengan metode, ada juga yang menyebutnya sebagai prosedur, ada ada pula yang mengatakan sebagai teknik.
Semua istilah tersebut dapat saja dipakai, asalkan di dalam penggunaan dalam posisi yang tepat. Bila digunakan sebagai suatu pendekatan maka pendekatan longitudinal akan sama dengan pendekatan genetik, dan pendekatan cross sectional sama dengan pendekatan posivitistik kuantitatif dan positivistik kualitatif. Sedangkan stimulus cros section menjadi teknik ketika yang menjadi pertimbangannya adala alternatif waktu yang lebih efisien, yang merupakan metode ketika pusat perhaatian pada pertimbangan apakah hasilnya dapat sama baik dengan yang longitudinal.Studi kasus sabagai studi longitudinal oelh Harton dan Hunt dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Retrospektif (bersifat menengok atau mgnehayati keberadaan diri.)
2. Prospektif (yang diharap yang akan datang)
Studi kasus retrospektif ini telah lebih awal digunakan sebagai kepentingan klinis, obyek studi ini adalah penyimpangan yang terkai dengan broken home, lingkungan miskin, perilaku sosial atau anti sosial, intelegensi rendah. Studi retrospektif ini tidak hanya desaiinya selalu mengarah kepada ke keperluan kuratif (penyembuhan, pengobatan, atau tindakan penyembuhan), bukan untuk kepentingan penelitian belaka. Untuk keperluan klinis subjek yang menjadi objek studi biasanya tunggal, sehingga kasus yang terdapat dalam hal ini adalah kasus yang terjadi pada satu orang.
Sedangkan studi kasus prospektif mengambil kepada obyek perkembangan normal, baik individu, kelompok atau satuaan lainnya: seperti kehidupan budaya , politik, lembaga kerja, atau lainnya. Sedangkan studi kasus prospektif ini digunakan untuk keperluan penelitian, mencari kesimpulan-keismpulan, dan dapat diharapkan dapat ditemukan pola, kecendrungan, arah dan lain lain sebagainya, yang dapat digunakan untuk membuat perkiraan-perkiraan perkembagan masa depan. Studi kasus ini biasanya jumlah subyeknya cukup banyak, lebih dari satu orang mungkin lebih. Apalini unit analisisnya bukan orang , melainkan satuan tertentu, seperti petani, wiraswasta, pegawai dan lain-lain. Seperti desa X, desa Y, negara X dan lain sebagainya. Itu merupakan studi kasus.
Cukup banayak ragam kemungkinan untuk memberikan lebel studi kasus, dan sampai batas tertentu memang cukup rasional, hal yang paling esensial adalah bahwa studi kasus merupakan studi yang mendalam tentang individu, dan berjangka yang lelatif lama.
Ada lagi satu teknik studi yang kita kenal dengan nama “tracer studi”, yang kita terjemahkan dengan studi penelusuran. Dalam terapan asalnya adalah studi “ex post-facto” yang bukan hanya terhenti setelah selesai mengikuti pendidikan, tetapi dilacak terus sampai yang bersangkutan bekerja; jadi bukan berhenti pada efek langsung, tetapi dilanjutkan pada dampak yang lebih jauh lagi. “Tracer studi” dalam artinya yang sekarang telah diperluas menjadi studi “longitudinal” dan mengobservasi objek untuk diungkap pola, arah, kecenderungan dalam jangka waktu yang lama, berkelanjutan dan terus menerus.
Dengan deskripsi tersebut, “tracer studi” menjadi sama saja dengan Pendekatan Genetik atau pendekatan “longitudinal”. Bedanya dengan dua yang terakhir terletak pada desain penelitiannya. Desain penelitian “tracer studi” mengaksentuasikan peranan waktu dalam desain dan dalam teknik analisis. Sebagian besar analisisnya berada pada kawasan statistik kuantitatif, ada satu dua yang dapat dimodifikasi menjadi kualitatif dengan bantuan deskripsi numerik.











C.     KESIMPULAN
Berpijak dari pembahasan di atas, maka dapatlah kami simpulkan bahwa Pendekatan Klinik-Genetik sangatlah penting dalam mengkaji sesuatu yang berada pada ranah penelitian.
Terdapat 5 komponen yang penting untuk ditelusuri dalam Pendekatan Klinik, yaitu: 1) identifikasi status situasi bagi perlakuan kuratif, 2) pengumpulan data, pengujian kemampuan indera, kesehatan, pendidikan, mental, dan mengadakan penelaahan biografinya, 3) membuat diagnosis dan identifikasi faktor penyebabnya, 4) penyesuaian, perlakuan, dan terapi, dan 5) program tindak lanjut.
Sedangkan Pendekatan Genetik didasarkan pada ketajaman peneliti melihat akan kecenderungan, pola, arah, interaksi banyak faktor, dan hal lain yang memicu dan menghambat perubahan. Perubahan genetik bertolak dari asumsi bahwa sesuatu itu berkembang dari yang elementer menjadi yang lebih sempurna.
Demikianlah pembahasan makalah yang kami tulis di sini, semoga mampu memberikan tambahan wawasan yang lebih bagi kita semuanya.

















DAFTAR PUSTAKA
H. Neong Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Raka Sorasia. 2002), hal 55
Robert K. Yin. Case Study Research. Design and Methods. Edisi ketiga. Applied social research method series Volume 5. Sage Publications. California, 2002. ISBN 0-7619-2553-8
www.pendekatan klinik genetic yahoo.com



                                                                                           

[2]Robert K. Yin. Case Study Research. Design and Methods. Edisi ketiga. Applied social research method series Volume 5. Sage Publications. California, 2002. ISBN 0-7619-2553-8
[3]H. Neong Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Raka Sorasia. 2002), hal 55
[4]Ibid,….
[5]www.pendekatan klinik genetic yahoo.com

0 komentar

Poskan Komentar

Part Of Me

Foto saya
mungkin diri ini tidaklah sesempurna apa yang kalian pikirkan dan bayangkan apalagi yang telah kalian definisikan tentang bagaimana kekhilafan diri ini tapi bagaimanapun ane selalu ingin menjadi yang terbaik at leas bisa membuat orang sekitar senang dengan keberadaan itu udah cukup ! and no matter what happend i will always remember who you are ! buddy !

>> <<

Diberdayakan oleh Blogger.