Label 3

My Visitor,,

free counters

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 29 Maret 2012

In Memoriam Nietzche


Tuhan dan Demokrasi Kita Kini

105 tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Agustus 1900, seorang filsuf besar, Nietzsche, meninggal. Ia tidak kuasa melawan kehendak Tuhan --yang disebutnya telah mati itu. Sebagian besar hidupnya dijalani dengan berbagai macam penyakit. Nyaris separuh usianya ia pertahankan dengan obat. Pada detik-detik terakhir masa hidupnya ia gila. Ia tidak tahu lagi apa yang telah diperbuatnya, bahkan tak sampai menyadari bahwa dirinya telah demikian terkenal. Nietzsche, lepas dari berbagai kritik para pemikir lain, memang seorang filsuf besar pada zamannya, bahkan masih terus berpengaruh pada zaman berikutnya. Ia disebut-sebut sebagai pemberi ilham sekaligus martil bagi postmodernisme. Pemikirannya bisa ditemukan pada Michel Foucault, Karl Jaspers, dan "si pengacau" bagi strukturalis, Jacques Derrida.

Tapi apakah yang dapat kita raih dari Nietzsche? Bukankah Nietzsche antidemokrasi, sementara hari-hari belakangan ini kita sedang mabuk demokrasi? Bukankah Nietzsche manusia murtad yang berteriak-teriak bahwa Tuhan telah mati, sementara kita justru merupakan bangsa yang, katanya, religius? Barangkali kita memang bukan Nietzsche dalam soal keberanian, tetapi rupanya kita lebih dari Nietzsche dalam masalah kedurhakaan. Sebagai sebuah refleksi dalam ke-105 tahun kematian Nietzsche, saya akan mencoba menunjukkan bagaimana pernyataan tersebut mendekati kebenarannya.

Ada dua point penting dalam gagasan besar Nietzsche, yakni "kehendak untuk berkuasa" dan "kematian Tuhan". Jika dua topik ini disandingkan, segera tampak satu benang merah yang erat mengikatnya. Tuhan adalah sebuah entitas kuasa. Berbicara mengenai Tuhan tidak bisa lepas dari soal kemahakuasaan. Ini berarti Tuhan bermakna karena ada kuasa yang dimilikinya. Tanpa pemilikan terhadap kekuasaan, bukan Tuhan namanya. Tuhan adalah kuasa itu sendiri. Keadaan ini, jika dihubungkan dengan dua aforisma Nietzsche tadi, jelas yang dimaksud dengan kehendak berkuasa itu bukanlah kehendak Tuhan, melainkan ada pihak lain yang ingin mengambil alih kuasa itu dari Tuhan. Agar kehendak ini tercapai, Tuhan harus dimatikan.


Namun, apakah memang demikian adanya yang dimaksud Nietzsche? Tentu saja pemaknaan tersebut hanya sebuah interpretasi. Ada banyak buku yang telah membahas Nietzsche dan semuanya merupakan interpretasi saja. Hal ini terjadi karena pemikiran Nietzsche memang sulit dipahami. Elizabeth, adik Nietzsche, yang notabene orang sangat dekat dengan Nietzsche, juga pernah menginterpretasikan pemikiran Nietzsche dengan sangat subjektif. Elizabeth menghubungkan "kehendak berkuasa" Nietzsche dengan persoalan politik. Ia menyambungkan gagasan saudaranya itu dengan perilaku politik Hitler yang membabat habis Yahudi. Interpretasi ini jelas tak tepat, sebab Nietzsche tidak anti-Yahudi, sebaliknya malah membenci yang antibangsa itu.

Bagi Nietzsche, kehendak berkuasa merupakan hakikat dunia dan keberadaan (being) manusia. Baginya, manusia secara terus-menerus hidup dalam kehendak untuk menguasai dirinya dan juga orang lain. Ini merupakan suatu kemestian. Oleh sebab itu, Nietzsche menulis, "Tujuan hidup adalah pertentangan, bukan kepuasan apalagi kedamaian, sebab itu pergilah kepada perang. Perangilah sesamamu dan dirimu sendiri." Moralitas baik dan buruk bagi Nietzsche adalah omong kosong sehingga karena itu jangan tunduk kepadanya. Baik dan buruk adalah rekayasa masyarakat dan negara yang membunuh kebebasan individu. Untuk melawan moralitas tersebut, menurut Nietzsche, individu harus menciptakan Ubermensch --sering diterjemahkan menjadi superman atau overmen-- sesuatu yang mengatasi manusia. Pada puncaknya, perlawanan terhadap moralitas tersebut juga pembunuhan atas Tuhan. Dan "Tuhan telah mati, Tuhan telah mati," teriak kemenangan Nietzsche yang diverbalkan melalui mulut Zarathustra.

Demikianlah kurang lebih inti "kebengalan" Nietzsche. Kini --terutama di sini-- setelah 105 tahun kematiannya, kita mungkin tak lagi menemukan pernyataan-pernyataan yang demikian sangat berani itu. Tidak ada dari kita yang berani lantang melontarkan pernyataan yang membalikkan nilai dari puncak sampai ke dasar tersebut. Kita bahkan tak pernah berani bertanya mengapa tangan kanan kita dianggap lebih mulia dari tangan kiri, misalnya. Apakah hal itu bukan sebuah diskriminasi? Filsafat kita adalah "jangan bermain api", "jangan bermain di tepi kali", "jangan bermain air di dulang", dan jangan jangan yang lain. Kita, sebagaimana telah disinggung di atas, jauh berada di bawah Nietzsche dalam soal keberanian berpikir.

Namun begitu, jika kita sepakat bahwa keberanian Nietzsche tersebut dianggap murtad secara teologis, apakah kita tidak lebih durhaka dari Nietzsche? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dimulai dengan menguraikan perilaku bangsa kita sepuluh tahun belakangan ini, yakni tahun ketika katup demokrasi (katanya!) mulai dibuka dan terbuka. Tengoklah sekali lagi, bersamaan dengan bertiupnya angin demokrasi (satu paham yang tidak disukai Nietzsche), kekacauan terjadi di mana-mana. Pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran kota, penjarahan, perang antarsuku dan agama sepertinya telah menjadi sesuatu yang biasa. Nyawa manusia tidak ada harganya (berbanding terbalik dengan harga dolar!). Tidak ada satu pun pakar yang bisa memberi penjelasan memadai mengapa semua itu terjadi. Paling-paling hanya bisa menuduh bahwa semua itu akibat dosa Orde Baru. Selebihnya kita sedang belajar berdemokrasi!

Ya, kita memang sedang belajar berdemokrasi. Namun, pembelajaran itu diawali dengan sebuah langkah yang keliru. Kita mulai masuk pada TK Demokrasi Primitif, lantas beranjak ke SD Demokrasi Liar (mungkin nanti akan ikut seleksi SMP Demokrasi Barbar, SMA Demokrasi Kanibal, dan Perguruan Tinggi Demokrasi Bunuh Diri). Kita benar-benar mabuk demokrasi sehingga karena kemabukan itu jadi tidak mengenal lingkungan. Demokrasi kita menjadi demokrasi anarkis.

Mengapakah hal itu terjadi? Jawabannya karena demokrasi kita identik dengan kehendak untuk benar. Dan ini berarti berbanding lurus dengan kehendak untuk berkuasa Nietzsche. Bedanya, kehendak untuk berkuasa kita melewati batas-batas kamanusiaan. Jika Nietzsche masih menyisakan pemikiran bahwa kehendak berkuasa itu juga berarti mencakup menguasai diri sendiri, di benak kita menguasai berarti menundukkan orang lain agar patuh pada kemauan kita yang sewenang-wenang. Jika Nietzsche menyebut perang sebagai metafor (di dalamnya juga berarti perang melawan diri sendiri), bagi kita perang adalah mengangkat senjata dan menembakkannnya pada orang yang berlainan paham, suku, keyakinan, dan agama. Jika Nietzsche membenci demokrasi dan sosialisme karena paham ini dianggapnya kurang menghargai individu, kita berdemokrasi-ria karena ia bisa dijadikan dalih untuk berlaku apa pun. Demokrasi kita pun menjadi tirani di situ.

Dalam konteks demokrasi yang demikian, sesungguhnya pekerjaan setiap hari kita adalah membunuh Tuhan, lebih dari apa yang dilakukan Nietzsche. Tengoklah para politikus yang setiap saat bermain akrobat itu. Mereka bahkan membunuh Tuhan di masjid, gereja, pura, dan tempat-tempat peribadatan lain. Ketika mereka mengingat Tuhan, yang terpikir di benaknya adalah bagaimana agar Tuhan bisa diperalat untuk menarik khalayak masuk ke dalam partainya, bagaimana Tuhan dibuat sebagai sarana untuk menipu rakyat. Mereka memasarkan dan menjual Tuhan di mana-mana. Walhasil, politikus itu menjadi pedang bermata dua: membunuh Tuhan dan rakyat sekaligus dalam waktu bersamaan.

Mungkin semua itu terlalu hiperbola dan provokatif. Namun, bagaimana kita bisa menutup mata dari kenyataan yang demikian menggetirkan. Inilah sebuah tragedi bangsa yang mengerikan. Saya sangat pesimis kita bisa mengubah perilaku yang telah demikian liar ini ke arah yang lebih baik. Kita tidak punya lagi figur yang bisa dijadikan panutan. Para politikus negeri ini hanya sibuk berebut kekuasaan. Sebentar lagi, saya pikir, mereka akan merebut kekuasaan itu dari tangan Tuhan yang kini sedang beramai-ramai dibunuhnya setiap hari. Jika kepada fatwa "kematian Tuhan"-nya Nietzsche kita masih bisa memberi peluang makna yang ambigu, terhadap kenyataan yang setiap saat kita saksikan sekarang, bagaimana dan di mana metafor itu mesti diletakkan?***

Andrea Rhapsody
Dosen STAI Luqman Al hakim Surabaya

0 komentar

Poskan Komentar

Part Of Me

Foto saya
mungkin diri ini tidaklah sesempurna apa yang kalian pikirkan dan bayangkan apalagi yang telah kalian definisikan tentang bagaimana kekhilafan diri ini tapi bagaimanapun ane selalu ingin menjadi yang terbaik at leas bisa membuat orang sekitar senang dengan keberadaan itu udah cukup ! and no matter what happend i will always remember who you are ! buddy !

>> <<

Diberdayakan oleh Blogger.